Selasa, 04 Oktober 2011

URGENSI WAKTU DAN MUHASABAH

Al-Waqtu Huwa al-Hayâh
Ada sebuah kata hikmah yang singkat namun sarat terhadap makna hidup yang sangat luas dan mendalam, yang terdiri dari " (tiga)  suku kata
arab, namun sangat representative untuk  menggambarkan arti pentingnya waktu bagi kehidupan manusia, yaitu ungkapan 'al-waqtu  huwa al-hayâh (waktu adalah kehidupan)'. Sekali lagi, yaitu 'waktu adalah kehidupan.'
Yang   dimaksud   dengan   kehidupan   adalah,   waktu   yang  dilalui manusia  saat  ia  dilahirkan  hingga ia  wafat.  Dengan  definisi  kehidupan seperti di  atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia –dengan  sengaja atau tidak sengaja- telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari- hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Sekali bahwa ketika kita menyia-nyiakan dan membuang waktu kita tanpa hal yang berarti untuk agama dan kemaslahatan umat, maka ketika itu juga sesungguhnya kita telah membunuh diri kita sendiri. Betapa waktu itu sangat berharga dan jangan biarkan ia berlalu begitu saja.
Allah Subhanahu wa Ta'ala   Bersumpah dengan Waktu dan Bagiannya
Begitu pentingnya  waktu  bagi kehidupan  manusia,  sampai-sampai Allah  Subhanahu wa Ta'ala  bersumpah di  banyak tempat dalam al-Qur`an al-Karim,   dengan   waktu   dan   bagian-bagiannya,   seperti   firman   Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Demi  waktu fajar, Demi  waktu Dhuha, Demi  Malam, Demi  Siang, Demi  Waktu

Sesungguhnya  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala,  jika  ia  bersumpah   dengan sesuatu,    maka   dengan   sumpahnya   itu,   dengan   sesuatu    tersebut dimaksudkan  untuk   memalingkan  atau   mengalihkan  pandangan  kita kepada arti  pentingnya hal tersebut  sampai kita bertafakkur  (berfikir)  di dalam setiap   bagian waktu seluruhnya, ketika fajar, ketika dhuha, ketika malam, dan ketika siang dll.
Seperti Ulil Albab di dalam firman-Nya :

Sesungguhnya   dalam    penciptaan    langit   langit   dan   bumi,   dan   silih bergantinya malam dan  siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  (QS.  ": 3 );  (yaitu)  orang-orang  yang mengingat Allah  sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan  berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini  dengan sia-sia  Maha  Suci  Engkau, maka peliharalah  kamidari siksa neraka. (QS. ": t )

Intropeksi Diri

Maka sudah selazimnya menjadi kewajiban bagi seorang muslim terhadap  dirinya untuk  melakukan muhâsabah  an-nafsi  'intropeksi  diri', yaitu   menghitung-hitung dirinya atas  tahun  dan hari-hari yang telah ia lalui.  Apa  yang  telah ia perbuat  semasa itu,  dan  keuntungan  apa  yang peroleh, kerugian apa yang ia derita.
Seperti  apa  yang  dilakukan  oleh  seorang  bisnisman  yang menginginkan kesuksesan  dengan  modalnya  pada  setiap  tahunnya,   ia menghitung-hitung  kembali perdagangannya,  berapa  modal yang telah  ia keluarkan, berapa pemasukannya, di  mana ia mengalami kerugian dan apa masalahnya, dan di  mana  keuntungannya,  berapa besar keuntungannya
dari   pada   kerugiannya,   ketika   kerugiannya   lebih   besar   dari   pada keuntungannya  maka  ia menjadi sangat  menyesal sekali dan  mengalami kesedihan yang luar biasa, dan sebaiknya ketika keuntungannya lebih besar dari  pada  kerugiannya   maka  ia merasa  senang  dan  bergembira sekali, untuk  selanjutnya    ia melakukan  kalkulasi bisnisnya kembali, memenag dan membuat schedule untuk tahun berikutnya.
Yang   demikian itu  pada  amrun dunyawi   (urusan   duniawi),   begitu
ihtimaam  (concern)nya    dan  sangat  telitinya ia dalam urusan  dunia  ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala   berfirman:
“Kesenangan di dunia ini  hanya sebentar dan akhirat  itu  lebih baik untuk orang-orang  yang bertaqwa dan anda tidak  akan dianiaya  sedikitpun.”(QS. An-Nisaa:)
Nabi Musa berkata di dalam al-Qur`an :
 “Hai   kaumku,  sesungguhnya  kehidupan   dunia   ini   hanyalah   kesenangan sementara, sesungguhnya akhirat itulah kesenangan  yang kekal.” (QS.!  : "t)



Allah Subhanahu wa Ta'ala   berfirman :
Di mana saja kamu berada, kematian  akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi  lagi kokoh, (QS. !:‹)
Karena    itu       muhasabatunnafsi    merupakan  suatu   keharusan, seandainya  tidak  sanggup setiap  hari  untuk  instropeksi/menghitungkan dirinya hendaklah  dilakukan  pada  setiap  pekan,  maka  kalaupun  setiap pekan  ia  masih  juga  tak  dapat  melakukannya,  maka  hendaklah  setiap bulan, dan kalau tidak bisa juga maka hendaklah ia melakukan instropeksi diri pada setiap tahun.

Ulama dan Waktu

Para salafus  soleh meninggalkan banyak  pelajaran  berharga  dalam
menghargai  waktu.  Imam  Ibnu   Jarir   ath-Thabari   (  "H-" H)   sepanjang
hidupnya  tercatat  telah  mengumpulkan "‹   ribu  halaman  dari  berbagai
karangannya.  Jika  kita  perkirakan  masa  kanak-kanak  beliau  sebelum baligh  !  tahun, maka dapat disimpulkan beliau menulis  !  halaman setiap
harinya. Begitu perhatiannya  beliau dengan waktu, sampai-sampai  ketika + sejam  sebelum  kematiannya  beliau  masih  menyempatkan  diri  menulis suatu  do`a yang baru  ia dengar dari Ja`far  bin Muhammad.  Begitu pula dengan Imam Ibnu  al-Qayyim yang tidak rela kehilangan waktunya karena safar   (suatu   perjalanan),   sehingga  selama  safarnya   beliau  mengisinya dengan  menulis   sehingga  menghasilkan   karya  Zaadul   Ma`aad.   Imam Nawawi yang tidur  dengan  bersandarkan   sebuah  buku  yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh  maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan  tintanya.  Majduddin Abu  al-Barakat  `Abdussalam,  kakek dari  Imam Ibnu Taimiyah, tiap kali masuk ke  kakus, beliau memerintahkan anaknya (orang  tua Imam Ibnu  Taimiyah)  untuk membacakan suatu kitab dengan suara  keras,  hingga terdengar  olehnya. Tak aneh  jika sikap sang kakek ini tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit,    dokter   menyarankan    agar   beliau   untuk    sementara    waktu menghentikan   dulu    kegiatan   belajar   mengajarnya   karena    hal   itu dikhawatirkan    dapat    memperparah    kondisinya.   Berkata   Imam   Ibnu Taimiyah kepada dokternya, "bukankah  jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat  memperkuat  daya  tahan  tubuh",   sang  dokter  membenarkannya. "Maka  sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat."


Optimalkan Amal

Waktu hidup manusia  di  dunia adalah umurnya, dan umur manusia merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta'ala   Kualitas umur seseorang sangat  menentukan  posisinya di   alam  kehidupan  berikutnya.  Jika  dari waktunya diperuntukkan  hanya  karena  Allah  (lillah)  maka  kematiannya adalah   baik   baginya.   Namun   sebaliknya   jika   waktu   dan   umurnya
dihabiskan untuk  menuruti  kesenangan nafsu   dan  dan  ambisi syahwat
hewaninya maka kematiannya merupakan petaka besar baginya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari- hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Ibnu  Mas`ud Radhiyallahu  'Anhu (salah  seorang sahabat besar Rasulullah

Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:


"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku."


Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, :

"Sesungguhnya    malam   dan   siang    terus   bekerja   dalam    dirimu,   maka bekarjalah di dalam siang dan malammu."
Bekerjalah  pada   siang  dan   malammu,  janganlah   mengakhirkan pekerjaan siang untuk dikerjakan di  malam harinya, dan janganlah mengakhirkan pekerjaan malam ke  siang harinya. Janganlah pekerjaan hari ini  di   akhirkankan  hingga esok  harinya  dan  janganlah  pekerjaan  esok karena  malas  diakhirkan  hingga lusanya.  Jangan  katakan,  "Nanti  akan kuamalkan,  sebentar  lagi akan kukerjakan."  Karena  setiap manusia akan ditanya  pada  hari  kiamat,  mengenai umurnya  untuk  apa  ia  habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya sudahkah ia amalkan, dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia
belanjakan ?. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam:
Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari Kimat hingga (ia) ditanya tentang:
١.  tentang umurnya, untuk apa ia habiskan ?
٢.  tentang ilmunya, sudahkan ia amalkan ?
٣.  tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ?
٤.  tentang jasadnya, untuk apa ia gunakan ?
(HR. At-Tirmidzi)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Demi  masa. (QS.    ": )  Sesungguhnya manusia  itu  benar-benar  berada dalam kerugian, (QS.    ": ) kecuali orang-orang  yang beriman dan mengerjakan  amal
saleh   dan  nasehat  menasehati   supaya  mentaati   kebenaran  dan  nasihat

menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS.   ":")
Sungguh  terbukti  kebenaran  ucapan  Imam Syafi`i mengenai  firman

Allah Subhanahu wa Ta'ala   :   

Bahwa seandainya  (al-Qur`an)  tidak diturunkan  kecuali (hanya)  surat (al- Ashr) ini, maka hal itu sudah cukup memadai bagi manusia sekalian.

Semoga  Allah   Subhanahu  wa  Ta'ala   memberikan  taufik,   hidayah  dan keberkahan-Nya dalam hidup dan umur kita. Amiin.